Sabtu, 19 Maret 2016

Terima kasih diriku

Suatu hari masuk email dari HR department di kantor saya. Email itu menginformasikan adanya pelatihan tentang  Emotional Quotient atau yang biasa di sebut orang EQ dari salah satu motivator terkenal di Indonesia. Tiba-tiba2 muncul keingintahuan yang besar untuk menguji diri sendiri tentang seberapa besar EQ dalam diri saya, bagaimana self awareness dan social awareness saya. Benarkah saya mampu memahami orang-orang di sekeliling saya, seperti saya rasakan selama ini. Bagaimana team work saya, dan apa yang harus dikembangkan lagi dalam hal emosi. Mengingat EQ adalah salah satu modal untuk sukses, akhirnya saya mencoba mengikuti training ini sekitar tahun 2014.

Satu hal yang saya pelajari dalam training ini adalah bagaimana mengelola emosi di tempat kerja agar kita tetap memiliki speed yang tinggi, fokus dalam menyelesaikan pekerjaan, bisa menempatkan prioritas dengan benar. Sebagai seorang karyawan, dinamika bekerja di tim perlu kita kenali dengan baik agar mampu mencari solusi dalam setiap masalah dalam tim. Dengan cara ini dinamika tim akan bisa meningkatkan produktivitas bukan mengancam produktivitas. Setelah menjalani tes dan sesi interview dengan salah satu trainer, Dia mengatakan bahwa EQ saya diatas rata-rata. Lega rasanya. Ini menjelaskan mengapa saya mudah merasakan apa yang dirasakan orang lain. Terkadang perasaan itu datang tiba-tiba. Dan pada saat yang tepat perasaan itu membantu saya menentukan sikap yang tepat dalam berinteraksi dengan orang lain. Bukan hanya dalam urusan pekerjaan namun juga di rumah. Perasaan itu juga membantu saya bersikap yang tepat kepada Asisten Rumah Tangga untuk memastikan anak-anak saya dijaga dengan baik. Lucunya, kalau saya abaikan, malah terkadang berujung pada keadaan yang tidak menyenangkan. Jadi saya mulai berlatih mendengarkan suara hati ini karena terbukti positif dampaknya. Buat saya ini seperti kata hati yang menjaga saya melakukan hal benar di saat yang tepat. Alhamdulillah, mungkin ini tanda Allah selalu menjaga saya.

"EQ kamu di atas rata-rata. Tetap lakukan apa yang kamu biasa lakukan, karena modal sukses sudah ada dalam diri kamu saat ini. Semua akan datang pada saat nya," kata trainer tersebut. Kalimat itu terasa berkesan sekali buat saya.

Salah satu sesi yang menarik buat saya adalah sesi berterima kasih pada diri sendiri. Waktu itu sebuah cermin ditempatkan di ruangan sebagai media kita berbicara kepada diri sendiri. Essensinya adalah kita perlu sesering mungkin berterima kasih pada diri sendiri untuk menumbuhkan perasaan positif tentang diri kita. Ternyata ada benarnya juga kita perlu berterima kasih kepada diri sendiri karena kita sering melihat fakta banyak orang tidak dapat menghargai diri sendiri hingga terjerumus pada hal-hal buruk.

Kalau kilas balik ke belakang kita pasti bisa mengingat kalau kita sering memaksa diri kita bekerja keras, berpikir keras. Kita juga terkadang menempatkan diri kita dalam suatu masalah yang harus kita selesaikan. Seringkali kita membiarkan diri kita penuh amarah sehingga mulai muncul  penyakit yang membuat diri kita terasa rapuh. Apakah kemudian kita berterima kasih pada diri kita setelah kita bisa melalui semua itu? Terkadang tidak.

Selain "Me time" cara lain berterima cukup menatap cermin dan mengatakan "Kamu hebat. Terima kasih atas semua yang kamu lakukan."

Dan hari ini menjelang hari lahir saya ingin menatap cermin dan mengatakan,

"Terima kasih diriku. Kamu selalu menjadi pribadi yang kuat. Sungguh kamu beruntung Allah memberikan kekuatan itu padamu sehingga kamu bisa melewati cobaan dengan senyum. Ketika tetes mata mengering, Subhanallah kamu semakin berpikir positive, bahwa cobaan itu Allah berikan untuk menaikkan derajat kamu di mata Allah. Alhamdulillah Allah selalu memberimu kesabaran yang luar biasa dalam banyak hal. Kamu tahu, kamu juga kreatif, sangat kreatif. Di tengah keterbatasan kamu selalu mencari cara untuk mencapai tujuan kamu. Kamu selalu berpikir keras dan menemukan cara untuk menyelesaikan masalahmu. Kamu tak pernah menyalahkan keadaan dan terus berpikir untuk maju. Terima kasih diriku. Kamu selalu berusaha menjadi Ibu yang baik untuk anak-anak, mengajarkan mereka untuk saling menyayangi dan menghargai dalam keluarga. Dan membimbing anak-anakmu untuk menjadi pribadi yang positif dan berjuang untuk meraih sukses. Jangan pernah putus asa, ingatlah selalu bahwa Allah selalu bersamamu. Cukup lah Dia sebagai penolongmu. Jangan pernah merasa Dia jauh. Per banyak doa dalam setiap langkah agar Dia selalu memudahkan semuanya untukmu. Terima kasih diriku. Besok hari lahirmu, Selamat hari lahir . Semoga kamu selalu bahagia. Amin."

2 komentar:

Ristin mengatakan...

Aamiin.. congratz yun.. semoga sukses selalu, suka dgn tulisan ini, mengingatkan jg buat aku u bercermin pd diri sendiri. Mengikuti kata hati rasanya lbh tepat yaa.. aku jg sering gtu, klo ga ikuti kata hati kok byk yg ga bener hehehe..

Yuyun Choiriah mengatakan...

Makasih ristin :) apalagi kita jadi Ibu ya ris, harus punya intuisi yg besar, spy bisa mendeteksi perkembangan anak2 kita jadI kita bisa mengarahkan ke jalan yang baik, aminnnnn :) dan trutama mendeteksi pergaulan mereka suatu hari, Alhamdulillah kalau kita bisa mengasah intuisi ini lebih baik lagi