Sabtu, 14 November 2015

Gamma Thohir, remaja 15 tahun inisiator microhydro for Indonesia project

Melihat sosoknya pertama kali, kalem,  anak mama, looks like the boy next door to me. Tapi kesan itu berubah 360 derajat ketika Gamma Abdurrahman Thohir naik ke panggung @atamerica memperkenalkan microhydro for Indonesia project untuk pertama kalinya. Rasanya semua yang hadir berdecak kagum pada sosoknya. Alih-alih terlihat seperti anak kelas 10 yang pemalu, dia terlihat percaya diri, memahami project pembangkit listriknya dan punya pemikiran kedepan yang tidak dimiliki umumnya remaja seusianya. Ditambah lagi  presentasi dalam bahasa Inggris itu fasih dibawakannya.



Gamma masih berusia 15 tahun di Sekolah Global Jaya. Dia sangat mengidolakan ayahnya yang sukses menjadi pengusaha di bidang energi. Dan mimpinya adalah sukses di bidang energi yang lebih ramah lingkungan. Kegemarannya pada teknologi memang sudah terlihat sejak kecil. Dan kemudahan mendapatkan informasi di dunia Maya membuka matanya tentang pembangkit listrik dengan teknologi ramah lingkungan di bidang energi yang menjadi salah satu solusi krisis energi di Indonesia.

"Saya terusik dengan kesenjangan akses listrik di kota dan desa, dan ingin melakukan sesuatu yang saya bisa, untuk mengatasi hal ini," kata Gamma.


Ia meyakini teknologi microhydro sebagai salah satu solusinya. Ketika mendapatkan tugas sekolah membuat proyek individu,  dengan semangat Gamma mencetuskan microhydro for Indonesia sebagai proyeknya.  Dengan cerdasnya, Dia menggandeng pihak-pihak yang bisa membantunya mewujudkan proyek ini. Selain guru sekolahnya,  dia mendapatkan dukungan Ibu Okty Damayanti,  Direktur Yayasan Adaro Bangun Negeri sebagai mentornya, IBEKA dan CV Cihanjuang produsen pembangkit listrik microhydro mengajarkan sisi teknis pembuatan teknologi microhydro kapasitas 30-40MW dan pembuatan turbin.



Iapun menemukan sebuah tempat sempurna yang ia sebut negeri di awan yang tak lain adalah Desa Ciptagelar, desa di kaki Gunung Halimun. Ketika ia turun langsung mensurvey debit air sungai yang bisa digunakan untuk bahan baku pembangkit microhydro ia jatuh cinta pada desa itu. Kehangatan masyarakat nya, potensi sumber daya alam desanya,  sungguh membulatkan tekadnya mewujudkan proyek ini. Ia tersentuh merasakan menginap di desa itu dalam selimut gelap ditemani cahaya lampu sumbu.

Sebuah pendekatan personal yang ia lakukan membuat nya semakin terikat dengan desa ini.

"Saya membangun kedekatan dengan tokoh masyarakat Ciptagelar agar mereka mudah menerima proyek ini. Bahkan saya punya sahabat baik di desa itu, seorang remaja seperti saya. Sekalipun tinggal di desa dia sangat percaya diri dan pengetahuannya luas. Di desa itu mereka punya stasiun TV desa. Dan sahabat nya,  ikut menjalankan stasiun ini. Bayangkan,  sebuah desa terpencil tapi punya keinginan untuk maju, " lanjut Gamma.




 Gamma bercerita ia akan menggalang crowd funding secara on line dan offline maupun mencari pihak-pihak yang dapat mendanai proyek ini termasuk melibatkan masyarakat Ciptagelar untuk berperan dalam mewujudkan proyek microhydro for Indonesia.

Harapannya begitu besar untuk pembangkit listik ini bisa menerangi Ciptagelar itu pada Juli 2016, karena beberapa desa di sekitar wilayah ini belum teraliri listrik.

"Mereka perlu listrik untuk operasional stasiun TV dan mengoperasikan kembali alat penggiling kopi. Selama 3 tahun ke depan saya akan menjaga proyek ini berkelanjutan dan memastikan masyarakat Ciptagelar dapat memeliharanya dengan baik demi desanya, " jelas Gamma.

Semua yang hadir terpukau menyimak presentasi Gamma. Mereka merasakan semangat Gamma untuk memberikan akses listrik di desa Ciptagelar. Tepuk tangan lebih dari 200 orang mahasiswa, siswa SMA, media, akademisi bergemuruh di ruangan itu. Sekitar 35 media termasuk para blogger mengerubuti Gamma sesuai acara. Semua ingin mengorek lebih dalam tentang pemikiran Gamma yang memukau.



Bunda Gamma,  Ibu Linda Thohir berdiri penuh haru. Beliau bangga anak laki-laki semata wayangnya berhasil menyampaikan pemikirannya selama ini.


Remaja 15 tahun ini mampu menginspirasi semua yang hadir termasuk saya. Sebuah kata-kata bijak kembali memenuhi pikiran saya. "Jangan tanyakan apa yang negara berikan untukmuch,  tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan untuk negara".

Semangat Gamma seakan melecut setiap ego yang terkadang muncul,  melecut pemikiran individualisme di dalam diri,  membangunkan jiwa malas yang terlelap, menyatukan rasa kebersamaan untuk membantu desa di kaki Gunung Halimun merasakan terang seperti  nyamannya kehidupan kita di kota.


 




2 komentar:

Ristin mengatakan...

Kagum sama Gamma Thohir, masih muda belia tapi udh pny visi misi membangun bangsa. Salam ya Yun.. :D.. ada bbrp blogger memang yg nulis ttg Gamma, semoga nanti gw diundang jg sm Adaro sbg Blogger :) (ngarep) hahahahha..

Yuyun Choiriah mengatakan...

@ristin betul, bgitulah anaknya :) smoga anak2 kita bisa kayak si kakak ya hehe... ada beberapa blogger tin memang. Semangat terus yah nulls nya :)