Selasa, 09 Februari 2016

Jangan bersedih Indonesia, kita masih punya harapan




Minggu ini sungguh hati terusik dengan banyaknya pemberitaan mengenai Pemutusan Hubungan Kerja karyawan di industri manufaktur dan migas. Banyak hal yang berkecamuk di pikiran saya. Tak ingin menyalahkan siapapun, saya ikut mendoakan semoga mereka yang terkena dampak dari musibah tersebut mendapatkan jalan keluar sebaik-baiknya dari Allah untuk masa depan mereka. 

Semua kejadian ini tentu mengingatkan kita semua satu hal, untuk selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita hingga hari ini. 

Lepas dari pemberitaan itu saya tetap berpikir, kalau Indonesia masih punya harapan. Bila kita melihat dari luar angkasa, kerlap-kerlip lampu terlihat di belahan bumi negara-negara yang termasuk negara maju seperti Jepang, Amerika, China, Dubai. Sungguh sangat kontras dengan kondisi di negara-negara yang sedang berkembang seperti Africa, bahkan Indonesia. Dari lokasi yang jauhnya jutaan kecepatan cahaya itu, negara sedang berkembang terlihat gelap. Kerlap-kerlip lampu tersebar tak merata. Sebuah kesimpulan memenuhi benak saya. Negara maju sudah lebih 1 abad yang lalu  mengenal listrik untuk menggerakkan revolusi industrinya. Seperti Amerika misalnya, saat itu mereka membakar batubara untuk menggerakkan kereta uap, menyalakan listrik yang menumbuhkan pabrik-pabrik hingga ekonomi negara itu tumbuh menjadi raksasa dunia. Dan kini mereka mulai meninggalkan batubara untuk beralih ke energi terbarukan. Ketika kemampuan ekonomi meningkat, mereka mampu membayar mahal untuk energi yang sumbernya dari tenaga matahari atau lainnya. 


Berkaca dari sejarah itu, kalau kapasitas listrik di Indonesia bertambah saya yakin Indonesia masih punya harapan untuk hidup yang lebih baik. Terbayang ketika misalnya 1 Pembangkit listrik berkapasitas 2000MW dihidupkan, 5000 tenaga kerja akan terserap disana. Kita bisa mulai menghitung, berapa keluarga yang mendapatkan kehidupan yang lebih baik ? Berapa anak yang bisa belajar di bawah penerangan lampu, berapa desa yang industri kecilnya masih bisa bergerak waktu malam ? 

Berapa orang-orang yang dapat menggunakan komputer dan tersambung dengan internet, kemudian wawasannya menjadi luas? Saya ingat, otak saya baru mulai banyak terisi informasi yang luas ketika saya di bangku kuliah, artinya ketika saya mulai mengenal internet. Ketika menyadari hal itu, saya berkesimpulan internet yang dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan umat akan mencerdaskan bangsa ini. Internet membutuhkan listrik tentunya. 

Otak saya terus berkalkulasi. Selain internet dapat diakses, akan tumbuh pabrik-pabrik skala kecil disekitar PLTU bisa dibangun. Kalau biasanya masyarakat hanya menjual hasil bumi di pasar, keberadaan pabrik itu akan menumbuhkan industri pengolahan makanan. Berapa banyak masyarakat yang meningkat penghasilannya karena menjual makanan kaleng dibandingkan hanya menjual hasil pertanian yang berupa bahan mentah?  

Saya hanya ingin mengatakan, jangan bersedih, kita masih punya harapan. Indonesia akan mengejar ketertinggalannya dengan negara-negara maju itu. Harapan itu datangnya dari ketersediaan listrik.
Ketika proyek 35.000 MW beroperasi nanti, berapa karyawan yang dibutuhkan di proyek-proyek tersebut ? Bukan tidak mungkin karyawan yang di PHK di industri lain, dapat bekerja di industri listrik atau di industri lainnya yang mulai bergerak kembali.

Indonesia sedang berharap mampu menyediakan banyak listrik untuk masyarakatnya. Harapan itu muncul dari dari batubara. Ibu pertiwi pasti mampu menyediakan listrik karena ia punya banyak batubara sebagai bahan bakar listrik yang terjangkau dibandingkan sumber energi lainnya. Batubara yang dibakar di PLTU dengan teknologi terkini atau disebut ultra super critical, juga mampu menghasilkan energi yang bersih dengan tingkat emisi yang sangat rendah.

Membayangkan semua itu, tumbuh optimisme dalam diri saya. Semoga Indonesia kedepan lebih cerah.Amin.

2 komentar:

Ari Johns mengatakan...

Woow keren bu

Yuyun Choiriah mengatakan...

Hehe...pa kabar om Johnss ketemu di dunia blogging kita